PayPal

Friday, December 12, 2014

Tuhan memberi Anugerah Untuk Semua Orang (Suyapto T)


"Dialah yang memikul kelemahan kita..."  Matius 8:17
Siapapun kita tidak akan pernah bisa melakukan hal yang sama persis seperti orang lain.  Yang bisa kita lakukan adalah meneladani atau mencontoh sisi positif dari kehidupan orang lain, seperti  keberhasilan, prestasi kerja atau pemikiran mereka.  Dengan mempelajari kelebihan orang lain hal itu dapat memotivasi kita untuk lebih bersemangat dalam menjalani hidup.  Jika mereka bisa, kita pun seharusnya juga bisa. Karena semua anak Tuhan mendapat anugerah.
Mungkin saat ini kita merasa minder, berkecil hati, mengasihani diri sendiri dan berputus asa oleh karena kelemahan yang kita miliki.  Tidak seharusnya kita bersikap demikian, karena sesungguhnya setiap orang selain punya nilai lebih/unggul pasti juga punya kelemahan, seperti pepatah mengatakan  'tak ada gading yang tak retak’, artinya tidak ada manusia yang sempurna dan mampu mengerjakan segala hal.  Yang terpenting adalah apapun yang kita kerjakan harus menyadari bahwa diri kita juga memiliki  kelemahan.
Kelemahan diri adalah suatu keterbatasan yang kita warisi atau kita dapatkan karena suatu peristiwa yang terjadi, di mana kita tidak punya kuasa untuk menolak atau mengubah peristiwa tersebut.  Kelemahan tersebut bisa berupa keterbatasan fisik/cacat tubuh, penyakit tertentu, atau mungkin juga keterbatasan emosional berupa trauma, kepahitan, temperamen bawaan atau juga keterbatasan kecerdasan.
Terkadang Tuhan mengijinkan adanya kelemahan dalam diri seseorang dengan tujuan hendak menyatakan kuasa-Nya.  Tuhan berkata,  "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."  (2 Korintus 12:9). Kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah terkesan dengan kepandaian, kegagahan, kecantikan, kemampuan, kekuatan seseorang yang seringkali membuat mereka merasa kuat dan mampu dengan apa yang dimilikinya. Tuhan memilih seseorang bukan berdasarkan apa yang terlihat secara kasat mata, tapi Ia melihat hati dan sangat tertarik kepada orang2 yg memiliki kelemahan tapi mau mengakuinya.  Sayang banyak orang sulit sekali mengakui kelemahannya, tapi cenderung membusungkan dada dan meremehkan orang lain.  Terhadap orang yang demikian Tuhan sama sekali tidak berkenan.

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga."  Matius 5:3
Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.

Saturday, December 6, 2014

Lakukan Yang Berarti Bagi Tuhan (Suyapto T)


Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)
Raja Salomo sangat terkenal karena hikmat dan kebijaksanaannya, juga karena kekayaannya yang melimpah. Di masa pemerintahannya, dia mendirikan Bait Allah yang megah dengan kayu-kayu yang mahal dan berharga. Dia juga melapisi Bait Allah itu dengan emas, demikian juga dia melapisi mezbah seluruhnya dengan emas. Salomo telah melakukan sesuatu yang sangat berarti untuk Tuhan. Dia memprioritaskan pembangunan Bait Allah di masa kejayaannya, dia telah belajar memberikan sesuatu bagi Tuhan. (1 Raja-raja 6:1-19)
            Pernahkah Kita berpikir bahwa Tuhan juga menginginkan sesuatu yang terbaik dari Kita untuk dipersembahkan kepadaNya? Jikalau Tuhan sudah memberkati kita dengan melimpah, kita pun harus belajar memberikan sesuatu kepada Tuhan. Tetapi kita sudah terbiasa menunggu Tuhan memberkati kita lebih dahulu baru kemudian kita mau mengorbankan sesuatu bagi Dia. Kalau ada yang tersisa setelah kita memenuhi semua keinginan kita, barulah kita berpikir untuk memberikan sesuatu bagi pekerjaan Tuhan.
            Sebenarnya Kita pun dapat melakukan sesuatu bagi Tuhan tanpa harus menunggu Tuhan memberkati Kita dengan melimpah, sebab memberi kepada Tuhan tidak hanya menyangkut dana atau materi. Kita dapat memberikan waktu, tenaga, dan pikiran kepada Tuhan karena Tuhan tidak pernah memaksa Kita untuk memberikan sesuatu yang tidak sanggup Kita berikan.

            Banyak orang Kristen yang hanya mau menerima sesuatu dari Tuhan tanpa pernah berpikir untuk melakukan sesuatu bagi Dia. Saat ini Kita boleh bertanya kepada diri Kita sendiri, “Apa yang sudah aku lakukan bagi Tuhan?” Melakukan sesuatu bagi Tuhan tidak perlu berpikir untung atau rugi tetapi Kita perlu mengingat apa janji Tuhan jika Kita setia kepadaNya. Jika Kita menabur banyak maka Kita pun akan menuai banyak pula (2 Korintus 9:6). Tentu Kita masih ingat bagaimana seorang janda memberikan persembahannya kepada Tuhan walaupun itu adalah semua yang dia miliki. Dia tidak pernah berpikir apa yang akan dimakan atau dipakainya untuk membiayai kehidupannya kelak, tetapi dia berusaha melakukan yang terbaik bagi Tuhannya semampu dia. Saya yakin bahwa Kita pun bisa melakukan sesuatu bagi Tuhan. Kalau mereka yang lemah bisa melakukan yang berarti bagi Tuhan, kenapa Kita tidak? Bukankah Kita sudah diberkati dan dipelihara oleh Tuhan begitu indah? Katakan, “Tuhan, aku mau melakukan sesuatu bagi Engkau tanpa menundanya lagi. Aku mau melakukan yang berarti bagiMu.”
Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.

Mintalah Tuhan Pimpin Hidupmu (Suyapto T)

Mintalah Tuhan Pimpin Hidupmu
"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Maz. 119:105)

Sering kali ketika kita mencari satu alamat, banyak yang nggan untuk berhenti menanyakan arah jalan sewaktu mengendarai mobil atau motornya, walaupun ia sudah kesasar. Sebenarnya alasannya adalah karena kita tidak ingin mengakui bahwa kita tidak mengetahui jalan dan terlalu yakin akan apa yang diketahuinya, walaupun terbatas. Akibatnya harus berputar-putar sekian lama. Kebanyakan dari kita lebih senang menemukan jalan yang benar dengan susah payah ketimbang minta tolong.
Cara seperti tersebut di atas bisa dipahami bila kita sudah cukup mengenal daerah yang dituju. Namun bila kita harus ke suatu tempat yang sama sekali asing, sudah pasti kita memerlukan petunjuk. Sangatlah jarang kita bisa sampai ke tempat dengan tepat, dengan waktu yang tepat seperti rencana. Biasanya kita pasti akan sedikit kesasar.
Kehidupan kita pun demikian. Kita percaya bahwa Allah memiliki rencana khusus bagi kita, namun seringkali kita tidak mau mencoba mencari pimpinan-Nya. Jika demikian bagaimana mungkin kita bisa sampai pada tujuan yang telah Allah tetapkan bagi kita? Tanpa petunjuk dari Dia yang mengetahui jalan dan tempat yang harus kita tuju itu, kita tidak mungkin akan sampai ditujuan kita.
Tuhan telah berjanji untuk memimpin kita. "Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa." (Maz. 16:11) Kehendak Tuhan bukanlah sesuatu yang kita temukan di luar sana lewat cara coba-coba. Kehendak-Nya barulah dapat kita temukan di dalam doa dan firman-Tuhan. Cara inilah yang dapat membuat kita semakin mengerti akan hati-Nya dengan lebih jelas.

Jika saat ini Anda sedang dalam perjalanan untuk mencari kehendak Tuhan, cobalah berhenti sejenak dan mulai berbicara kepada-Nya. Ia tahu dengan pasti di mana Anda berada, dan Ia tahu dengan pasti kemana Anda harus pergi. Tidak ada satu pun peta yang dapat memberikan petunjuk yang lebih jelas lagi, selain Dia.
Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.

Berkat dan Kutuk (Suyapto T)


"Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal." (Ulangan 11:26-27)
Berkat atau kutuk bisa datang kepada siapapun, kenapa kutuk bisa datang dan menghampiri hidup kita? Alkitab menyatakan: "dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal." (Ul.11:28) Kutuk bisa datang dalam hidup kita, jika (1) Tidak mendengar perintah Tuhan yang kita dapatkan dari Alkitab, (2) Menyimpang dari perintah Tuhan, arti melakukan yang Tuhan larang atau juga tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan, (3) Mengikuti allah lain itu sama dengan berhala terhadap segala sesuatu yang diam\nggap lebih tinggi dari Tuhan, contoh, uang dijadikan sebagai berhala.
Berkat datang jika kita membaca Alkitab dan melakukannya setiap hari :”berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini”. (Ul. 11: 27).  Kita harus membaca Alkitab setiap hari, dengan demikian tubuh rohani kita diberi makan Firman Tuhan, sehingga roh kita menjadi kuat. Ingat baik-baik, selain kita memiliki “tubuh jasmani” kita pun memiliki “tubuh rohani”. "Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah." (1 Kor. 15: 44).  Jadi jelas, manusia memiliki dua sisi tubuh, sisi tubuh alamiah dan sisi tubuh rohaniah. Dua-duanya harus diperhatikan secara seimbang.  Kalau kita hanya memperhatikan tubuh jasmaniah, maka tubuh alamiah yang kuat, sebaliknya tubuh rohani kita terabaikan. Padahal perjuangan hidup kita sebagai orang percaya bukan melawan darah dan daging, melainkan roh-roh jahat. "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus. 6:12).

Kemenangan hanya akan kita raih, jika musuh dilawan dengan Roh Allah yang kuat. Undang Roh Kudus untuk pimpin kita. Perkuat tubuh Roh kita dengan cara baca Alkitab setiap hari. Firman Tuhan akan menjadi makanan bagi Roh kita dan membersihkan kita dari segala kotoran dalam hidup kita, yaitu dosa. Baca Alkitab adalah kewajiban orang percaya, Firman Tuhan adalah kunci untuk mendapatkan berkat-berkat Tuhan. Raihlah berkat Tuhan, ambil sikap dan komitmen untuk membaca Firman Tuhan setiap hari.
Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.

Jangan Hitung-hitungan dengan Tuhan (Suyapto T)


"Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan".  Yohanes 6:9

          Jika sampai saat ini kita belum menuai apa-apa, hidup kita sepertinya pas-pasan terus, jangan sekali-kali menyalahkan Tuhan. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengoreksi diri sendiri, mungkin selama ini kita tidak pernah menabur, pelit dan menggenggam erat harta untuk diri sendiri.  Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa ada dua jenis orang sukar sekali mengalami berkat-berkat Tuhan.  Mereka adalah seorang pemalas dan kedua orang kikir.
Bagaimana kita bisa menikmati berkat Tuhan jika kita malas dan tidak mau bekerja?  Rasul Paulus dengan tegas mengatakan,  "...jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."  (2 Tesalonika 3:10).  Di dalam Amsal 20:4 juga tertulis,  "Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa."  Sementara, orang yang kikir tidak akan menerima berkat dari Tuhan, karena ia tidak pernah menabur, maunya hanya menerima saja.  "Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan."  (Amsal 28:22).
Sesungguhnya, Tuhan memerintahkan kita untuk memberi adalah demi kebaikan kita, Tuhan sama sekali tidak diuntungkan dengan pemberian kita, karena Dia adalah Pemilik segala-galanya.  Dibutuhkan iman untuk bisa melakukan kehendak Tuhan ini.  Ketika seorang anak menyerahkan lima roti dan dua ikan, secara otomatis sudah tidak ada makanan untuk dimakan.  tetapi karena ia rela berkorban dan memberikan semuanya kepada Yesus, maka terjadilah perlipatan yang luar biasa. Tidak ada rumus manapun yang bisa menyatakan bahwa dengan lima roti dan dua ikan, dapat memberi makan 5000 orang dengan kenyang, bahkan masih ada sisa sebanyak 12 bakul penuh.
Semakin kita memiliki keberanian untuk memberi, berarti kita memberi kesempatan seluas-luasnya kepada Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya. Oleh karena itu, “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”  (Amsal 3:9-10).

Jangan pernah hitung-hitungan dengan Tuhan, berilah yang terbaik yang kita miliki kepada Tuhan, maka pada saatnya Ia akan melimpahkan berkat-Nya dengan berlipatkali ganda, karena Dia Tuhan yang tidak pernah berhutang kepada umat-Nya.
Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.

Menyalibkan Kedagingan (Suyapto T)


"Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup."  Roma 8:13
 Sering kali tubuh jasmani kita memberontak bila diajak untuk berdoa dan menyembah Tuhan, apalagi dalam waktu yang cukup lama.  Jangankan menyediakan waktu sejam, berdoa untuk beberapa menit saja rasa-rasanya kita sudah tidak tahan, kehabisan bahan doa, merasa lelah, ngantuk karena seharian bekerja, belum lagi gangguan dari orang lain yang membuat kita tidak fokus berdoa. "...roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41).  Hal ini makin diperparah dengan kehadiran Iblis yang tidak pernah berhenti untuk menghalangi niat dan keinginan kita untuk berdoa, sebab Iblis tahu benar jika kita tekun berdoa maka ia sangat dirugikan.  Karena itu berbagai cara dilakukan-nya untuk menghadirkan penghalang-penghalang supaya orang percaya jatuh. Jika selama ini kita seringkali gagal dalam membangun keintiman dengan Tuhan, jangan langsung menyerah, teruslah mencoba.  Lakukan sampai berdoa itu menjadi kebiasaan kita sehari-hari.
Membangun keintiman dengan Tuhan berbicara tentang ketaatan, sebab  "...jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa."  (Yakobus 4:17).  Meskipun berulang kali mendengar khotbah atau membaca buku tentang kekariban dengan Tuhan, namun jika hati kita belum juga tersentuh, maka kita tidak akan pernah mau melakukan seperti yang diperintahkan.  Karena itu mintalah kepada Roh Kudus agar Ia memperbaharui hati kita supaya kita benar-benar memiliki hati yang taat.  Ketaatan bukan karena dipaksa orang lain, melainkan didasari oleh kerinduan untuk menyenangkan Tuhan.
            Tuhan berjanji,  "Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat, supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku dengan setia; maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka."  (Yehezkiel 11:19-20).

Karib dengan Tuhan berarti mampu menang atas kedagingan dan mau hidup dalam pimpinan Roh Kudus!
Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.

Bangga Sebagai Pengikut Kristus (Suyapto T)


"...sekarang Aku akan membuat engkau menjadi kebanggaan abadi, menjadi kegirangan turun-temurun."  Yesaya 60:15
Masih banyak orang Kristen yang malu dengan keberadaannya sebagai pengikut Kristus;  dengan segala cara mereka berusaha menutupi diri rapat-rapat di hadapan orang lain. Kalau ditanya “Kamu Kristen ya?” jawabnya : “Nggak koq, cuma sekali-kali ikut”, “Supaya banyak temannya.” “Sekali-kali ke gereja, daripada minggu tidak ada kegiatan”, dan sebagainya. Sebagai anakNya yang telah menerima anugerah begitu besar, tidak seharusnya kita malu dengan status kita sebagai orang Kristen,  “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”  (Markus 8:38).
Mestinya kita bangga menjadi pengikut Kristus, karena kita adalah orang-orang pilihan Tuhan, artinya kita ini istimewa dan sangat berharga di mata Tuhan.  “...kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.”  (1 Petrus 2:9-10).  Kita pun adalah warga Kerajaan Sorga “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,” ( Filipi 3:20).  Sedangkan Tuhan telah memanggil dan memilih kita  “... sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,”  (Efesus 1:4-5).  Jadi Tuhan memiliki rancangan yang luar biasa bagi hidup kita.
Rancangan Tuhan bagi kita bukan hanya berkaitan dengan jaminan hidup kekal di dalam Kerajaan Sorga, tapi juga berlaku pada saat kita masih menjalani hari-hari kita di dunia yang fana ini.  “...Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”  (Yeremia 29:11).

Berbanggalah sebagai orang Kristen, karena kita adalah umat pilihan, imamat rajani,
Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.