PR1

PayPal

Friday, July 21, 2017

Dengan Iman Kita Hadapi Setiap Pencobaan ( Suyapto T )

"Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal."   1 Timotius 6:12a

Tuhan Yesus telah berkorban dan menebus kita dari kutuk hukum Taurat: penyakit, kematian, kemiskinan dan juga kematian kekal. Tetapi sekalipun kita telah melihat kebenaran dari penebusan kita, tak berarti kita bebas dari persoalan hidup. Namun apabila kita tinggal tetap dalam firman Tuhan di tengah-tengah persoalan, yakinlah kita akan menang.

Jika kita mengenal firman Tuhan dan mulai memandang segala hal seperti Tuhan memandang, kita akan mampu menjaga sikap hati dengan benar meski persoalan hidup mendera. Ini merupakan kesempatan bagi kita dapat hidup dengan iman dan membuktikan bahwa firman Tuhan itu ya dan amin, sebab "... iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."  (Roma 10:17). Tetapi, "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya dalah mati."  (Yakobus 2:17). Dengan kata lain: iman timbul dari pendengaran firman Allah, tetapi iman yang kitaterima terjadi apabila apa yang telah kita dengar itu kita lakukan / praktekkan. Jika kita berkata bahwa kita beriman kepada Tuhan tetapi kita tak pernah diuji melalui pencobaan-pencobaan, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa kita memiliki iman? Dengan hanya membaca firman Tuhan tetapi takpernah menggunakan iman terhadap pencobaan, bagaimana kita dapat menjadi pemenang? Tak akan pernah terjadi kemenangan rohani tanpa menggunakan iman terhadap problem hidup dan tanpa bertanding dalam pertandingan iman yang benar.  Disebut pertandingan iman yang benar karena pertandingan ini adalah untuk suatu kemenangan.

Kita perlu belajar bertekun dalam mengatasi problem hidup. Sesungguhnya Tuhan tak memberi penyakit, penderitaan atau kemiskinan. Tapi terkadang Roh Kudus membimbing kita pada situasi-situasi yang secara manusia tak kita sukai. Di tengah kesesakan inilah Iblis berusaha membujuk kita untuk tidak taat kepada Tuhan dan menyimpang dari jalur yang Tuhan rencanakan bagi kita. Jika memandang pada problem, kita pasti akan kecil hati dan kalah.

Bersandarlah pada kebesaran dan kuasaNya yang tak terbatas, yakinlah segala sesuatu indah pada waktuNya!

Gembala Sidang Anda: Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh

Friday, July 14, 2017

Hal yang harus disepakati dalam Keluarga ( Suyapto T )

"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya" - 2 Korintus 6:14.
Prinsipnya yang harus dipahami dalam keluarga Kristen adalah semakin banyak hal yang disepakati, kehidupan berkeluarga akan semakin kompak dan harmonis. Kesepakatan harus dibangun sesuai dengan rencana Allah, sebab di luar itu yang terjadi adalah kesepakatan manusia yang justru menjauh dari Allah.
Pertanyaan penting yang harus diajukan ialah: "Apa sajakah yang perlu disepakati dalam keluarga Kristen?" Ada beberapa yang bisa disajikan tentang hal-hal yang harus disepakati dalam keluarga Kristen, yaitu:
1.     Suami-istri harus sepakat dalam hal iman.
Iman menjadi bagi yang paling mendasar dan penting didalam keluarga Kristen, karena kesatuan tidak bisa terjadi antara gelap dan terang.
2.     Suami-istri harus memiliki visi yang sama.
Suami-istri harus memiliki visi yang sama, supaya dapat menghadapi tantangan hidup dengan kuat. Visi memiliki peran yang sangat sentral dan strategis bagi sebuah keluarga sebagai unit terkecil dari sebuah organisasi. Jika keluarga Kristen dalam hal ini suami-istri tidak memiliki visi yang sama, maka dapat dipastikan bahwa keluarga tersebut tidak memiliki arah yang jelas untuk dituju dan dicapai. Visi bersama akan membawa keluarga memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya di bumi.
3.   Suami-istri harus sepakat tempat di mana          mereka akan bertumbuh bersama dalam iman.
Suami-istri dapat terus bertumbuh dan membangun iman yang kuat dalam keluarga, tempat beribadah dan komunitas merupakan hal yang perlu disepakati bersama. Gereja yang sehat akan mempersiapkan jemaat menjadi murid Kristus yang sejati, dan pelayanan bersama suami-istri sebagai satu daging perlu terus dibangun agar dampaknya semakin luar biasa sesuai rencana Tuhan.
4.     Suami-istri harus sepakat soal keuangan.
Uang merupakan hal yang sangat penting dan menjadi faktor yang sering menjadi penyebab perceraian. Keuangan yang satu akan membuat hati suami dan istri bersatu, dan demikian pula sebaliknya. Untuk dapat membangun kesepakatan dalam hal keuangan, suami-istri perlu membangun sistem pengelolaan keuangan bersama, sehingga rasa aman terbangun dan sekaligus keluarga terjaga dari pencobaan karena uang. Keuangan bersama akan membuat pasangan terus saling berkomunikasi dalam mengambil keputusan demi kepentingan bersama.
          5.   Suami-istri harus sepakat soal waktu.
 Waktu adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli dan tidak dapat terulang. Banyaknya waktu yang kita luangkan menunjukkan prioritas kehidupan kita. Setiap orang harus memberikan prioritas apa yang harus dilakukan dalam hidup ini. Prioritas untuk keluarga dan Tuhan harus diatas segala-galanya.
Gembala Sidang Anda : Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.

Hidup Ini Adalah Kesempatan ( Suyapto T )

"Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman."  Galatia 6:10

Hidup ini adalah kesempatan              
Reff.: Oh Tuhan pakailah hidupku
Hidup ini untuk melayani Tuhan                
Selagi aku masih kuat
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan bri       
Bila saatnya nanti ku tak berdaya lagi
Hidup ini hanya sementara                         
Hidup ini sudah jadi berkat

                  Lagu ini diciptakan oleh Pdt Wilhelmus Latumahina S.Th Gembala Sidang GBI Bethesda, Sarua Ciputat. Dia menulis lagu ini setelah mengalami musibah dengan meninggalnya anak sulungnya pada tahun 2004 karena kecelakaan lalu lintas. Dalam perenungannya dia menyadaribetul bahwa ada tenggang waktu yang Tuhan beri buat kita. Artinya hidup ini ada batasnya. Tidak selamanya kita muda, kuat, jaya dan tidak selamanya kita hidup. Suatu saat kita akan stuck dan tidak dapat berbuat apa-apa, sehingga perlu diingat bahwa: Menit-menit, hari-hari, minggu-minggu bahkan tahun-tahun yang kita jalani adalah waktu yang menentukan kekekalan. Sorga yang kekal ataukah neraka yang kekal. Untuk itu waktu yang Tuhan beri merupakan kesempatan yang terbaik untuk berbuat bakti dan melayani Tuhan, sehingga hidup ini tidaklah menjadi sia-sia.
Ada kata bijak yang menyatakan bahwa kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya. Oleh karena itu jangan pernah sia-siakan setiap kesempatan yang ada. Banyak orang yang menyesal begitu rupa saat kesempatan itu tidak diguna-kan denganbaik. Yang ada tinggallah penyesalan. Kisah orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31), saat di dunia si kaya hidup dalam gelimang harta, tapi ia lupa diri dan tidak pernah menabur atau memperhatikan orang2 lemah. Akhirnya ia mengalami kebinasaan kekal. Ia lupa bahwa hidup di dunia ini adalah kesempat-an bagi kita untuk mempersiapkan hidup di dalam kekekalan. Jadi tugas kita menemukan kesempatan dalam setiap situasi yang ada, sebab jika hidup ini berakhir tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat.  Sesudah mati tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik dan melayani Tuhan. Raja Salomo menasihati,"Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi."  (Pengkotbah 9:10).
Selagi Tuhan memberi kesempatan, gunakan sebaik mungkin untuk melayani Tuhan supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari!
Gembala Sidang Anda: Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.

Kenaikan Yesus Kristus ( Suyapto T )

"Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka,terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah."  Markus 16:19

Hari Kamis yang lalu kita pergi bersama-sama ke Taman Wisata Matahari untuk kebaktian padang memperingati Kenaikan Yesus Kristus ke sorga, ini adalah peristiwa yang terjadi 40 hari setelah Dia bangkit dari kematian dan 10 hari sebelum hari raya Pentakosta.  Peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke sorga memiliki arti penting dalam iman kristiani, yaitu bukti bahwa Tuhan yang kita sembah di dalam nama Yesus Kristus adalah Tuhan yang hidup dan berkuasa, yang bukan hanya mengasihi kita dengan rela mati di kayu salib, lalu bangkit dari kematian di hari yang ke-3, tetapi Dia juga naik ke sorga.
Kenaikan Yesus Kristus ke sorga adalah suatu fakta, rill, bukan dongeng atau mimpi, bukan cerita fiksi atau sekedar ilustrasi.  Jadi tubuh-Nya benar-benar naik ke sorga. Alkitab menjelaskan bahwa kenaikan-Nya ke sorga disaksikan langsung oleh murid-murid-Nya. Adapun kenaikan-Nya terjadi secara perlahan-lahan, jelas terlihat dengan kasat mata, secara jasmaniah dan normal. "Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: 'Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.'"  (Kisah 1:9-11).  Kenaikan Yesus Kristus ke sorga menjadi bukti ke-Ilahi-an Kristus.  Bahkan Alkitab menegaskan pula bahwa cara Ia naik ke sorga juga akan menggambarkan kelak Ia akan datang kembali untuk yang kedua kalinya.
Mengapa Yesus Kristus harus naik ke sorga?  Setelah bangkit dari antara orang mati Yesus mempunyai tubuh kebangkitan yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, karena tubuh-Nya adalah tubuh kemuliaan.  Tubuh-Nya yang mulia itu tidak sesuai dengan keadaan di bumi ini, karena itu Dia harus naik ke sorga, suatu tempat yang sesuai dengan tubuh rohani-Nya.  Yesus Kristus datang ke dunia dengan caranya yang ajaib pula.  Tuhan Yesus berkata,  "Aku dari atas...Aku bukan dari dunia ini."  (Yohanes 8:23), "...Iadatang dari Allah dan kembali kepada Allah."  (Yohanes 13:3).
Bagi umat Tuhan, hari kenaikan Yesus Kristus adalah hari yang sangat berarti dan patut disambut dengan penuh sukacita. Kenaikan-Nya ke sorga membuktikan bahwa apa yang difirmankan-Nya adalah ya dan amin! Tidak ada janji yang tidak ditepati-Nya.
Yesus Kristus naik ke sorga membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan yang berkuasa!
Gembala Sidang Anda: Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.

Jalani Hari Dengan Penuh Sukacita ( Suyapto T )

"Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur."   Mazmur 113:7
Hari-hari ini banyak orang kehilangan sukacita karena bertumpuk masalah yang dialami.  Ada yang berkata,  "Bagaimana saya bisa bersukacita, penghasilan saja pas-pasan, sedangkan biaya sekolah untuk anak-anak mahal.  Bagaimana saya bisa bersukacita, tinggal saja di kos-kosan ukuran 5S  (sangat sempit sekali sampai sumpek).  Bagaimana saya bisa bersukacita, di usia yang sudah di atas 30 tahun belum juga menemukan jodoh." Seringkali keadaan dan situasi yang ada begitu mempengaruhi kondisi hati kita.  Sebaliknya, ada juga orang yang punya uang banyak dan tinggal di kawasan elite tapi hatinya tetap tidak ada sukacita.  Selalu saja ada rasa was-was atau kuatir.  Ternyata, memiliki uang atau kekayaan melimpah tidak menjamin seseorang merasakan sukacita, karena uang tidak bisa membeli sukacita.
Sebagai orang percaya tidak seharusnya kita kehilangan sukacita, meski situasinya mungkin tidak mendukung. Tuhan menghendaki agar kita senantiasa memiliki sukacita di segala situasi, entah itu susah atau senang, punya duit ato bokek, karena sukacita adalah kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan hidup. Ada pun kunci untuk tetap mengalami sukacita adalah bermula dari pikiran kita, karena  "...seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia."  (Amsal 23:7a).  Pertama-tama, kita harus tanamkan dalam hati dan pikiran kita bahwa:  1. Kita punya Tuhan yang dahsyat. Pemazmur berkata,  "Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi. Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita," (Mazmur 47:3-4). Sebesar apa pun masalah yang kita alami, serahkan semuanya pada Tuhan, Dia pasti sanggup menolong kita karena kuasaNya tak terbatas.  2. Masalah adalah proses pendewasaan iman. Jika kita diijinkan mengalami masalah, berarti Tuhan sedang mendidik kita supaya kita makin dewasa di dalam iman.  Jadi, tetaplah bersukacita!  Seperti dikatakan, "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  (Ayub 23:10).  3. Ada Roh Kudus yang senantiasa memberi kekuatan dan penghiburan kepada kita.
Oleh sebab itu mari kita jalani hari dengan penuh sukacita, karena kita punya Tuhan yang dahsyat dan Roh Kudus yang senantiasa menopang.
Gembala Sidang Anda: Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh.

Mengatasi Masalah Hidup ( Suyapto T )

" 'Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?' Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjaditeduh sekali." Matius 8:26
Hidup dalam Tuhan bukan berarti bebas masalah. Saat berjalan dengan Tuhan sekalipun terkadang 'angin ribut' secara mendadak datang menyerang kita. Hal ini juga dialami oleh murid-murid Yesus saat mereka berada di dalam perahu. "Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur." (ayat 24). Karena angin ribut, mereka menjadi sangat panik dan ketakutan, padahalYesus berada dalam satu perahu. Lalu mereka berseru, "Tuhan, tolonglah, kita binasa." (ayat 25b). Hal ini sering kita alami juga, bukan?
Ketika mengalami permasalahan yang berat kita cenderung panik dan menjadi takut, padahal Yesus bersama kita dan ada di dekat kita, Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita. Sebaliknya justru kita yang sering kali melupakan dan tidak mempercayai-Nya. Kita masih terpengaruh dengan apayang kita lihat dan dengar, terpaku dengan apa yang kelihatannya di sekitarkita, sehingga masalah kelihatannya besar sekali, yang berarti kita tidak berjalan dengan iman. Akibatnya kita mudah stres, murung, putus asa; jangankan bersukacita, membuka mulut untuk memuji Tuhan saja kita enggan melakukannya.
Hidup dalam iman adalah hidup bukan berdasarkan pada suatu yang kelihatan, tetapi apa yang tidak kelihatan, serta memandang dan menyikap segala sesuatu dengan ‘mata rohani’. “...hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-“ (2 Korintus 5:7), kata Paulus. Kita harus percaya meski tidak melihat. Jika dalam menjalani hidup ini kita banyak merasakan ketakutan dan kekuatiran berarti kita belum sepenuhnya percaya kepada Tuhan. Tuhan mengijinkan kita berada dalam ‘masa-masa genting’ untuk melatih ‘otot’ iman kita. Biasanya bila sudah terjepit dan babak belur kita baru mau berserah dan percaya kepada Tuhan. Bila kita menyadari Yesus ada di dekat kita, kita akan menjalani hidup dengan tenang. Memang secara kasatmata Yesus tidak kelihatan, tetapi Roh Kudus ada di dalam kita. Sebesar apa pun badai menyerang, kita tetap mampu melewatinya karena Roh yang ada di dalam kita lebih besar dari segalanya.
Langkah apa yang harus kita lakukan supaya kemenangan yang dijanjikan Tuhan tergenapi dalam hidup kita? 1. Setia dan tekun membaca firman Tuhan.  2. Berdoa dengan sungguh-sungguh.  “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b). 3. Hidup dalam pertobatan selalu. Bertobat berarti menanggalkan manusia lama, mengenakan ‘manusia baru’ setiap hari. Pertobatan adalah kehendak Tuhan yang utama; tanpa itu kita tidak akan menikmati janji-janji Tuhan.
Tidak ada masalah terlalu sulit bagi orang percaya asal tiga hal di atas menjadi bagian dalam hidupnya!
Gembala Anda Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa MTh

Thursday, May 4, 2017

Kemunafikan ( Suyapto T )

"Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar,"  Markus 12:38

Salah satu anggota DPR yang setuju hak angket KPK di gulirkan mengatakan bahwa harus dibongkar ‘kemunafikan’ di KPK. kita tidak membahas hak angket dan benar tidaknya pernyataannya tersebut, tapi apa yang dikatakannya itu menginspirasi kita untuk coba merenungkan apakah kita juga hidup dalam kemunafikan.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dikenal sebagai orang yang 'suci'.  Sayang, mereka melakukan ibadah atau kegiatan rohani hanya sebatas aktivitas fisik saja dan itu pun disertai dengan motivasi yang tidak benar, seperti tertulis: "Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang;  mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;  mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi."  (Matius 23:5-7).  Tuhan Yesus berkata,  "...di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan."  (Matius 23:28).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti munafik : Berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua. Jadi orang yang munafik tindakan yang ia lakukan hanyalah kepura-puraan. Kemunafikan adalah sifat yang sangat dibenci Tuhan! Adakah orang Kristen yang hidup dalam kemunafikan?  Jawabannya:  banyak sekali!  Saat berada di dalam ruangan ibadah atau gereja, atau saat sedang terlibat pelayanan, kita selalu terlihat begitu suci dan bersikap manis ala malaikat.  Yang di-perbincangkan hanyalah tema-tema Alkitabiah.  Tetapi sepulang dari ibadah, sikap, ucapan dan tindakannya berubah secara drastis. Di rumah mulai memperlakukan pembantunya semena-mena tanpa kasih;  para bos mulai menjalanan bisnis yang penuh dengan trik dan lain-lain.  Sampai-sampai ada istilah 'Kristen tomat' (Minggu tobat, hari lain kumat/kambuh).
Orang dunia beranggapan bahwa kemunafikan adalah cara yang dibutuhkan agar kita dapat survive dalam pergaulan dan juga karier. Terhadap orang-orang yang munafik Tuhan Yesus memakai bahasa yang cukup keras: celakalah kamu yang munafik!
Sekarang mari kita mengintropeksi diri kita sendiri, bila sampai saat ini kita masih tergolong sebagai orang-orang yang munafik, mari kita bertobat dengan sungguh, karena kemunafikan hanya akan membawa kita kepada kehancuran: Tuhan akan memalingkan wajahNya dari kita, artinya pintu berkat juga tertutup!

Gembala Sidang Anda:
Pdt Ir Suyapto Tandyawasesa MTh.