PayPal

Tuesday, November 18, 2014

MENJADI ANGGUR PILIHAN


"Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur." Yesaya 5:1
Kepada Yesaya Tuhan menyampaikan sebuah perumpamaan tentang kebun anggur dan pemilik kebun anggur. Kebun anggur adalah gambaran dari kehidupan orang percaya dan pemilik kebun anggur adalah Tuhan sendiri. Tuhan sangat mengharapkan agar kita menghasilkan buah anggur yang baik, sedangkan "Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah." (Yohanes 15:2). Namun, untuk bisa menghasilkan buah anggur yang terbaik itu tidak mudah, proses demi proses harus kita lewati.
Ada beberapa tahap yang harus dipersiapkan agar kebun anggur itu dapat  menghasilkan buah anggur yang baik:
1. Dicangkul dan dibuang batu-batunya, "Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; " (ayat 2). Supaya pohon anggur itu menghasilkan buah, si pemilik kebun anggur akan mengolah tanahnya terlebih dahulu agar menjadi tanah yang subur dengan cara mencangkulnya, memberinya pupuk serta membuang semua kerikil atau batu-batu yang ada. Selama ini kita sering mendengarkan firman, baik lewat kotbah-kotbah atau pembacaan renungan, tetapi firman itu seolah-olah berlalu begitu saja karena hati kita masih keras; kita sulit menerima teguran dan merasa diri sendiri benar. Maka dari itu Tuhan perlu sekali mencangkul 'tanah' hati kita supaya menjadi lunak dan memiliki kerendahan hati. Proses itu mungkin sangat menyakitkan bagi kita, tetapi semua itu mendatangkan kebaikan bagi kita. Begitu juga dengan 'batu-batu' yang ada di dalam diri kita, harus dibuang jauh-jauh! 'Batu-batu' penghalang itu bisa berupa: sakit hati, kebencian, amarah, dendam, bersungut-sungut dan sebagainya, yang seringkali menjadi penghambat kemajuan iman kita.
2. Harus ada menara jaga di tengahnya, "...ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya..." (ayat 2). Adapun fungsi dari menara yang dibangun di tengah-tengah kebun anggur adalah untuk menjaga dan mengawasi pertumbuhan pohon anggur tersebut supaya terhindar dari berbagai macam serangan hama dan juga dari tangan orang-orang jahat yang berniat merusaknya

Baca: Yesaya 5:1-4
"Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?" Yesaya 5:4b
 Kehidupan kekristenan kita juga dihadapkan pada berbagai macam tantangan dan pencobaan. Hanya orang-orang Kristen yang memiliki sikap berjaga-jaga dan berdoalah yang akan mampu melewati itu semua. Maka kita harus selalu berjaga-jaga dan berdoa, karena "Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8b).
 Berjaga-jaga berarti selalu dalam posisi sigap, tidak lengah dan selalu waspada. Perihal kewaspadaan, firman Tuhan dengan keras mengingatkan kita: "Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh." (2 Petrus 3:17b). Kita harus senantiasa membangun persekutuan dengan Tuhan melalui jam-jam ibadah kita dan juga bersekutu dengan Dia secara pribadi melalui saat teduh kita. Tuhan Yesus sendiri telah memberi teladan kepada kita pada saat Dia masih berada di dunia ini, Dia selalu bersekutu secara pribadi dengan BapaNya yang di sorga. Alkitab mencatat: "Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ." (Matius 14:23) dan di dalam Markus 1:35 juga dikatakan, "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana ."
 3. Digalinya lobang sebagai tempat pemerasan anggur. Bila pohon anggur dirawat dan dijaga dengan baik, pada saatnya akan menghasilkan buah anggur yang baik, bukan buah yang masam. Itulah tanda seorang Kristen yang dewasa rohani yaitu kehidupannya menghasilkan buah, "...sehingga  hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah," (Kolose 1:10). Hasil buah anggur yang baik itu merupakan persembahan yang terbaik dari hidup kita bagi Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah selama bertahun-tahun menjadi orang Kristen, sudahkah kita menghasilkan buah seperti yang dihendaki oleh Tuhan? (baca Galatia 5:22-23).
 "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan." Matius 3:8

Jagung Bakar




Pada suatu ketika ada seseorang yang sangat aktif ke gereja, sangat tahu tentang kitab suci dan juga bisa dibilang dia itu rajin sekali membantu keadaan gereja, aktif deh intinya.
Karena pengetahuannya dia mulai merasakan mengetahui semuanya, mulai merasa super, mulai merasa mempunyai pandangan sendiri, dia mulai berpikir, berdoa itu kenapa harus di gereja, mengapa harus pergi ke gereja, karena dimanapun kita bisa berdoa dan sebagainya.
Karena pikiran-pikiran sendiri inilah yang membuatnya menilai diri sendiri, dia menilai semuanya berdasarkan pikirannya, memang dia tidak meninggalkan Tuhan, dia tetap rajin berdoa, tapi dia mulai malas ke gereja, karena dia melihat buat apa toh kita ke gereja, karena untuk berhubungan dengan Tuhan kita bisa dimana saja.
Jadilah dia memulai sesuatu yg baru dengan pandangannya, dia mulai membentuk suatu yg baru, dia membangun ruang doa yg bagus sekali di rumahnya.
Karena dia itu dekat dengan salah seorang Pastur, ketidakhadirannya di gereja mulai dirasakan oleh sang Pastur, dan sang Pastur/romo itu mulai mencari tau ada apa, dan akhirnya mereka ketemu dan org tersebut menceritakan pandangannya, sang romo pun tak bisa memberikan alasan yg tepat, dan romo tersebut tetap minta kepada Tuhan agar org tersebut kembali ke gereja.
Suatu ketika romo tersebut diundang ke rumah org tersebut, dengan maksud utk melihat kehidupannya. Ketika di rumah itu, org tersebut memperlihatkan ruang doa yg bagus sekali dan romo itu terkesan, tapi dalam hati dia malah tambah bingung gimana membawa org ini balik ke gereja.
Kemudian mereka membakar jagung, saat membakar itu terlihatlah oleh romo arang-arang itu menyala dengan baik, kemudian sang romo mengambil arang yg sudah menyala dengan baik, lalu memisahkannya dari tumpukan arang yg lain, dan hal itu dilihat oleh org tersebut, arang yg menyala itu akhirnya padam. Melihat hal itu org tersebut berkata, romo mulai minggu depan aku akan kembali ke gereja....
Renungan ini aku dapatkan pada saat misa minggu pagi yang dibawakan oleh romo Bono di paroki Trinitas, banyak pesan didalam renungan ini.
- romo itu berperan sebagai gembala yg baik.... yang tetap memperhatikan sekitarnya.
- bagi kita sekalian, kita ini umatNya, dan kita mempunyai kehendak bebas, jgnlah kita melepaskan diri / menjadi sombong dengan pemikiran kita, karena pemikiran Tuhan tidak akan pernah bisa dimengerti manusia.
- ke gereja itu bukan keharusan, tapi itulah saatnya iman kita dipelihara, dengan berkumpul kita akan merasakan rohani kita bekerja, dan ingatlah "apabila dua-tiga orang berkumpul memuliakan Yesus maka Dia akan hadir disitu :)

Hati Yang Sempurna




Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu.

Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah. Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata " Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku ?". Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ;namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata.

Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah ? Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa " Anda pasti bercanda, pak tua", katanya, "bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan".

" Ya", kata pak tua itu, " hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan.

Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya.
Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan - - memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang itu, dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu. Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu ?"

Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, dan merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir kedalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.

Catatan




Di ruangan itu........ Antara sadar dan tidak, aku merasa berada dalam suatu ruangan. Tak ada hal yang menarik disana, kecuali pada salah satu dindingnya, terdapat lemari dengan laci-laci kecil, membentang dari lantai sampai langit-langit. Tiap-tiap laci berisi catatan-catatan sesuai dengan judul pada tiap-tiap laci. Kudekati salah satu laci yang bertuliskan "Gadis-gadis yang kusukai". Kubuka laci tersebut dan mulai membaca catatan-catatan yang ada di dalamnya.Aku terkejut, kututup laci tersebut, ........... Aku mengenal semua nama yang tertulis disana.........

Kini aku sadar, dimana aku berada......... Ruangan dengan catatan-catatan yang ada di dalamnya merupakan ruang penyimpanan data kehidupanku...... Semua hal dalam hidupku tercatat secara terperinci disana. Heran, penasaran, dan takut berbaur menjadi satu.
Ku buka laci demi laci secara acak, 'ku baca tiap catatan yang ada di dalamnya Beberapa catatan memberikan sukacita dan kenangan manis, ada pula yang membuat aku malu, bahkan kecewa terhadap diriku sendiri. Berbagai catatan mengenai kehidupanku ada disana, ada catatan yang berjudul "Teman-teman", dan disebelahnya terdapat juga catatan yang berjudul "Teman-teman yang aku khianati". Catatan-catatan itu memiliki bermacam-macam judul, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang bagiku cukup 'aneh', "Buku-buku yang aku baca", "Kebohongan yang pernah aku ucapkan", sampai kepada "Hal-hal yang telah aku lakukan ketika marah", dan masih banyak lagi........

Aku tak henti-hentinya merasa heran dengan apa yang tertulis didalamnya. Sering kutemui begitu banyak catatan, lebih banyak dari yang kuharapkan. Sering pula aku berharap catatan yang kubaca berisi lebih banyak data. Catatan ini merupakan sejarah kehidupanku secara terperinci. Mungkinkah aku memiliki cukup waktu untuk membuat semua catatan ini ?
Kartu-kartu ucapan ini begitu banyak, ribuan bahkan jutaan catatan ada di dalamnya.Semuanya benar, dibuat dengan tulisan tanganku, bahkan ada tandatanganku pada setiap kartu. Tiba-tiba aku tersentak, "Catatan-catatan ini tidak boleh dilihat orang lain, tak seorangpun.......!" Aku harus menghancurkan catatan-catatan ini. Aku mencoba mengeluarkan kartu-kartu ini dari lacinya, namun tiap-tiap kartu seolah melekat erat pada lacinya.......... Aku berusaha sekuat tenaga, kucoba merobek catatan tersebut, namun kertas itu begitu keras, sekuat baja, aku tak dapat merobeknya. Tak berdaya, .......... aku mengembalikan laci-laci itu ketempatnya. Kusandarkan kepalaku ke dinding, malu, marah, kecewa, dan putus asa berbaur menjadi satu.
Lalu aku melihat sebuah laci, judulnya "Orang-orang Dengan Siapa Aku Berbagi Kasih Yesus". Kubuka laci itu, .....sangat ringan...., ringan sekali..........., isinyapun hanya sedikit, bahkan dapat kuhitung dengan sebelah tangan. Air mataku mulai bercucuran, aku menangis tersedu-sedu.......... Aku terjatuh, berlutut, dan menangis, airmata mengaburkan pandanganku....... Aku malu.............., sangat malu..........., aku malu melihat perjalanan hidupku........ Tidak ! Tak seorangpun boleh memasuki ruangan ini........, rintihku.......
Tiba-tiba aku melihat Yesus berdiri di hadapanku............. Aku tertunduk, tak sanggup berhadapan dengan Dia dalam keadaan seperti ini... Ia berjalan menghampiri laci-laci tersebut dan membaca catatan di dalamnya...... Aku tak sanggup memandang wajahNya, aku takut.........
Ketika aku beradu pandang denganNya........ Kulihat kesedihan yang sangat dalam dimataNya....... Jauh lebih dalam dari yang mampu aku rasakan....... Ya Tuhan........ Mengapa Engkau harus membaca semua itu....??? Setelah selesai membaca semuanya, Ia menghampiri aku....... Tampak penyesalan diwajah-Nya.......aku tak sanggup memandang-Nya. Kutundukkan kepalaku dan menangis dengan sedih, aku ........orang yang berdosa....... Kemudian ......Yesus merangkul aku, tanpa kata......., Ia turut menangis bersamaku..... Tiba-tiba Ia berdiri, menghampiri laci-laci itu dan mengeluarkan semua catatan itu........ Satu-persatu dikeluarkan-Nya catatan itu, Ia tersenyum, sebuah senyuman pilu...... Lalu Ia mulai membubuhkan tandatangan-Nya di atas namaku. Tidak !!!! Yesus terlalu suci untuk membubuhkan nama-Nya diatas dosaku. Kucoba merebut catatan-catatan itu............ Lalu kulihat nama-Nya, menutupi namaku dan tanda tanganku ......... Nama Yesus tertera disana, dengan tinta merah......, tebal dan tampak hidup........ Tidak,.... Itu bukan tinta......., itu darah Yesus..........

Kemudian Ia menghampiri aku, meletakkan tangan-Nya di pundakku dan berkata "Sudah Selesai" Yesus membantuku berdiri, menuntunku keluar ruangan itu....... Ruangan itu terbuka, tak ada kunci disana......... Yang tinggal hanyalah kartu-kartu kosong yang masih harus ku isi.....

God Bless You..............
JESUS KNOWS ALL YOUR FAULTS BUT HE STILL LOVE YOU ANYWAY !!!! HIS LOVE FOR YOU IS SO PERFECT

Meja Kayu




Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama diruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini." Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan.

Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek. Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?". Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan."

Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

Author Unknown

Teman, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak. Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Terima kasih telah membaca
Hope you are well and please do take care.

Mama Tersayang




Saat ini aku ada di surga, duduk di pangkuan Tuhan. Tuhan sangatlah mengasihiku dan Ia turut menangis bersamaku. Ia menangisi hatiku yang telah dihancurkan. Sebelumnya aku amat diinginkan untuk menjadi seorang gadis kecil. Aku tak begitu mengerti tentang apa yang telah terjadi. Aku dulu begitu senang saat aku mulai menyadari keberadaanku.
Aku ada di dalam tempat yang gelap namun nyaman. Kupandangi jari tangan dan kakiku. Alangkah cantik diriku dalam masa perkembanganku, walaupun belum dekat masanya sampai tibanya saat aku telah siap meninggalkan lingkunganku itu. Aku habiskan sebagian besar waktuku dengan tidur ataupun berfikir. Bahkan pada hari-hari terawal hidupku, aku merasakan hubungan istimewa antara aku dan Mama. Kadang aku mendengar Mama menangis. Kadang-kadang Mama berteriak atau menjerit, lalu menangis.
Kudengar Papa balik berteriak, aku merasa sedih dan berharap bahwa Mama akan segera pulih. Aku berfikir, kenapa kiranya Mama sering menangis. Pernah hampir seharian Mama menangis. Aku turut sedih. Tak dapat kubayangkan kenapa Mama sesedih itu.
Pada hari yang sama, sesuatu yang mengerikan terjadi. Monster yang amat mengerikan memasuki tempat yang hangat dan menyenangkan tempat aku berada. Aku amat takut dan mulai berteriak, namun tak sekalipun engkau mencoba menolongku. Mungkin engkau tak pernah mendengarku. Monster itu dekat dan lebih dekat lagi, sedang aku berteriak dan berteriak lagi, "Mama, Mama ... tolonglah aku; Mama, tolong aku".
Lengkaplah teror yang kualami. Aku berteriak dan berteriak hingga kupikir aku tak mampu lagi melakukannya. Lalu monster itu mengoyakkan lenganku. Amat sakit rasanya, nyerinya tak dapat kuterangkan. Teror itu tak berhenti. Oh, betapa aku memohon kepadanya untuk berhenti. Aku berteriak ngeri saat monster itu mengoyak lepas tungkaiku. Walaupun aku telah mengalami teror seperti itu, aku masih sekarat. Kutahu aku takkan pernah memandang wajah Mama, atau mendengar Mama berkata kepadaku betapa Mama menyayangiku. Aku ingin melenyapkan semua air mata Mama. Kubuat banyak rencana untuk membuat Mama bahagia. Aku tak bisa; seluruh mimpiku telah buyar. Walau aku berada dalam nyeri dan kengerian yang hebat, di atas semuanya aku merasakan nyerinya hatiku yang hancur. Aku tak mengharapkan sesuatu selain menjadi anak Mama.
Tak ada gunanya lagi kini, aku telah mengalami kematian yang menyakitkan. Aku hanya dapat membayangkan hal-hal buruk yang telah mereka buat terhadap diri Mama. Aku ingin memberitahu Mama sebelum aku pergi bahwa aku mencintai Mama, namun aku tak tahu kata-kata apa yang Mama dapat mengerti. Dan segera sesudahnya, aku tak lagi memiliki nafas untuk mengucapkannya; aku mati.
Aku merasakan kebangkitan diriku. Aku dihantar oleh malaikat memasuki tempat besar yang indah. Aku masih menangis, namun sakit fisik kini telah lenyap. Malaikat itu membawaku kepada Tuhan, lalu meletakkanku di pangkuanNya. Ia berkata bahwa Ia mencintaiku, dan bahwa Ia adalah Bapaku. Maka aku gembira. Aku menanyakan apakah kiranya yang telah membunuhku. Ia menjawab, "Aborsi. Aku menyesal, anakKu; sebab Aku tahu bagaimana rasanya." Aku tak tahu apa itu aborsi; kupikir itu adalah nama dari monster tadi.
Aku menulis untuk mengatakan aku mencintai Mama dan untuk memberitahu Mama betapa inginnya aku menjadi gadis kecil Mama. Aku telah berjuang keras untuk hidup. Aku ingin hidup. Aku punya kemauan itu, tapi aku tak sanggup; monster itu terlampau kuat. Monster itu telah menyedot lepas lengan dan tungkaiku, kemudian seluruh diriku. Tak mungkin untuk hidup.
Aku ingin Mama tahu bahwa aku telah berjuang untuk tetap tinggal bersama Mama. Aku tak ingin mati. Mama, tolong awasi pula si monster aborsi. Mama, aku sayang Mama. Dan aku juga tak suka Mama mengalami nyeri seperti yang telah kualami. Tolong hati-hati.

Dengan Cinta,
Bayi Perempuanmu 

Malam Saat Lonceng Berdentang



Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga daripada mendapat perak. Amsal 16:16

Suatu hari, dahulu kala, sebuah gereja yang mengagumkan berdiri di sebuah bukit yang tinggi di sebuah kota yang besar. Jika dihiasi lampu-lampu untuk sebuah perayaan istimewa, gereja itu dapat dilihat hingga jauh di sekitarnya. Namun demikian ada sesuatu yang jauh lebih menakjubkan dari gereja ini ketimbang keindahannya: legenda yang aneh dan indah tentang loncengnya.

Di sudut gereja itu ada sebuah menara berwarna abu-abu yang tinggi, dan di puncak menara itu, demikian menurut kata orang, ada sebuah rangkaian lonceng yang paling indah di dunia. Tetapi kenyataannya tak ada yang pernah mendengar lonceng-lonceng ini selama bertahun-tahun. Bahkan tidak juga pada hari Natal. Karena merupakan suatu adat pada Malam Natal bagi semua orang untuk datang ke gereja membawa persembahan mereka bagi bayi Kristus. Dan ada masanya di mana sebuah persembahan yang sangat tidak biasa yang diletakkan di altar akan menimbulkan alunan musik yang indah dari lonceng-lonceng yang ada jauh di puncak menara. Ada yang mengatakan bahwa malaikatlah yang membuatnya berayun. Tetapi akhir-akhir ini tak ada persembahan yang cukup luar biasa yang layak memperoleh dentangan lonceng-lonceng itu.

Sekarang beberapa kilometer dari kota, di sebuah desa kecil, tinggal seorang anak laki-laki bernama Pedro dengan adik laki-lakinya. Mereka hanya tahu sangat sedikit tentang lonceng-lonceng Natal itu, tetapi mereka pernah mendengar mengenai kebaktian di gereja itu pada Malam Natal dan mereka memutuskan untuk pergi melihat perayaan yang indah itu.

Sehari sebelum Natal sungguh menggigit dinginnya, dengan salju putih yang telah mengeras di tanah. Pedro dan adiknya berangkat awal di siang harinya, dan meskipun cuaca dingin mereka mencapai pinggiran kota saat senja. Mereka baru saja akan memasuki salah satu pintu gerbang yang besar ketika Pedro melihat sesuatu berwarna gelap di salju di dekat jalan mereka.

Itu adalah seorang wanita yang malang, yang terjatuh tepat di luar pintu kota, terlalu sakit dan lelah untuk masuk ke kota di mana ia dapat memperoleh tempat berteduh. Pedro berusaha membangunkannya, tetapi ia hampir tak sadarkan diri. "Tak ada gunanya, Dik. Kau harus meneruskan seorang diri."

"Tanpamu?" teriak adiknya. Pedro mengangguk perlahan. "Wanita ini akan mati kedinginan jika tak ada yang merawatnya. Semua orang mungkin sudah pergi ke gereja saat ini, tetapi kalau kamu pulang pastikan bahwa kau membawa seseorang untuk membantunya. Saya akan tinggal di sini dan berusaha menjaganya agar tidak membeku, dan mungkin menyuruhnya memakan roti yang ada di saku saya."

"Tapi saya tak dapat meninggalkanmu!" adiknya memekik. "Cukup salah satu dari kita yang tidak menghadiri kebaktian," kata Pedro. "Kamu harus melihat dan mendengar segala sesuatunya dua kali, sekali untukmu dan sekali untukku. Saya yakin bayi Kristus tahu betapa saya ingin menyembahNya. Dan jika kamu memperoleh kesempatan, bawalah potongan perakku ini dan saat tak seorangpun melihat, taruhlah sebagai persembahanku."

Demikianlah ia menyuruh adiknya cepat-cepat pergi ke kota, dan mengejapkan mata dengan susah payah untuk menahan air mata kekecewaannya.

Gereja yang besar tersebut sungguh indah malam itu; sebelumnya belum pernah terlihat seindah itu. Ketika organ mulai dimainkan dan ribuan orang bernyanyi, dinding-dinding gereja bergetar oleh suaranya.

Pada akhir kebaktian tibalah saatnya untuk berbaris guna meletakkan persembahan di altar. Ada yang membawa permata, ada yang membawa keranjang yang berat berisi emas. Seorang penulis terkenal meletakkan sebuah buku yang telah ditulisnya selama bertahun-tahun. Dan yang terakhir, berjalanlah sang Raja negeri itu, sama seperti yang lain berharap ia layak untuk memperoleh dentangan lonceng Natal.

Gumaman yang keras terdengar di seluruh ruang gereja ketika sang Raja melepaskan dari kepalanya mahkota kerajaannya, yang dipenuhi batu-batu berharga, dan meletakkannya di altar. "Tentunya," semua berkata, "kita akan mendengar lonceng-lonceng itu sekarang!" Tetapi hanya hembusan angin dingin yang terdengar di menara.

Barisan orang sudah habis, dan paduan suara memulai lagu penutup. Tiba-tiba saja, pemain organ berhenti bermain. Nyanyian berhenti. Tak terdengar suara sedikitpun dari siapa saja di dalam gereja. Sementara semua orang memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan, terdengarlah dengan perlahan-tetapi amat jelas-suara lonceng-lonceng di menara itu. Kedengaran sangat jauh tetapi sangat jelas, alunan musik itu terdengar jauh lebih manis daripada suara apapun yang pernah mereka dengar.

Maka mereka semuapun berdiri bersama dan melihat ke altar untuk menyaksikan persembahan besar apakah yang membangunkan lonceng yang telah berdiam sekian lama. Tetapi yang mereka lihat hanyalah sosok kekanak-kanakan adik laki-laki Pedro, yang telah perlahan-lahan merangkak di sepanjang lorong kursi ketika tak seorangpun memperhatikan, dan meletakkan potongan kecil perak milik Pedro di altar.