Tuesday, September 2, 2014

Kamu Berharga



Suatu ketika, ada seorang pembicara memulai kotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang baru. Trus dia bertanya "Siapa diantara kamu yang mau uang ini?"

Langsung aja pada mengangkat tangannya, banyak banget. Katanya lagi " Oke deh, ini bakal saya kasih, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini". Si pembicara ngeremes uang kertas seratus ribu itu, jadi cuma sekuntel doang. Trus dia buka lagi ke bentuk semula : lembaran seratus ribu, tapi udah kucel banget. Lalu dia tanya " Siapa yang masih mau uang ini?" Tetep aja pada angkat tangan, sebanyak yang tadi.

"Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini". Dia ngejatuhin lembaran uang itu ke lantai, trus diinjek-injek pake sepatunya yang habis jalan di tanah becek sampe nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi" siapa yang masih mau?" Tangan-tangan masih aja terangkat. Masih sebanyak tadi.

"Nah, saudara-saudaraku, sebenernya kita udah mengambil satu nilai yang sangat berharga dari peristiwa tadi. Kamu semua masih mau uang ini walau bentuknya udah nggak karuan lagi. Udah jelek, kotor, lecek... tapi nilainya nggak berkurang : tetep seratus ribu rupiah.

Sama seperti kita. Walau kamu udah jatuh, tertimpa tangga pula... atau kamu gagal, nggak berdaya, terhimpit, atau dalam keadaan apapun, kamu tetep nggak kehilangan nilaimu..... karena kamu begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, ketakutanmu menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu. " Kamu akan selalu tetap berharga, Di mata Tuhan"

Kalung Mutiara



Jenny, gadis cantik, kecil berusia 5 tahun, bermata indah. Suatu hari,ketika ia dan ibunya sedang berbelanja bulanan, Jenny melihat sebuah kalung mutiara tiruan. Indah, meskipun harganya cuma 2.5 dolar. Ia sangat ingin memiliki kalung tersebut, dan mulai merengek kepada ibunya. Akhirnya sang Ibu setuju, katanya: "Baiklah, anakku. Tetapi ingatlah bahwa meskipun kalung itu sangat mahal, ibu akan membelikannya untukmu. Nanti, sesampai di rumah, kita buat daftar peerjaan yang harus kamu lakukan sebagai gantinya. Dan, biasanya kan Nenek selalu memberimu uang pada hari ulang tahunmu. Itu juga harus kamu berikan kepada ibu." "Okay," kata Jenny setuju.

Merekapun lalu membeli kalung tersebut. Setiap hari, Jenny dengan rajin mengerjakan pekerjaan yang ditulis dalam daftar oleh ibunya. Uang yang diberikan oleh neneknya pada hari ulangtahunnya juga diberikannya kepada ibunya. Tidak berapa lama,perjanjiannya dengan ibunya pun selesai. Ia mulai memakai kalung barunya dengan rasa sangat bangga. Ia pakai kalung itu kemanapun ia pergi. Ke sekolah taman kanak-kanaknya, ke gereja, ke supermarket,bermain, dan tidur, kecuali mandi. "Nanti lehermu jadi hijau," kata ibunya. Jenny juga memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya.

Setiap menjelang tidur, sang ayah akan membacakan sebuah buku cerita untuknya. Suatu hari, seusai membacakan cerita, sang ayah bertanya kepada Jenny: "Jenny, apakah kamu sayang ayah?" "Pasti, yah. Ayah tahu betapa aku menyayangi ayah." "Kalau kau memang mencintai ayah, berikanlah kalung mutiaramu pada ayah." "Ya, ayah, jangan kalung ini. Ayah boleh ambil mainanku yang lain. Ayah boleh ambil Rosie, bonekaku yang terbagus. Ayah juga ambil pakaian-pakaiannya yang terbaru. Tapi, jangan ayah ambil kalungku." "Ya, anakku, tidak apa-apa. Tidurlah." Ayah Jenny lalu mencium keningnya dan pergi, sambil berkata: "Selamat malam, anakku. Semoga mimpi indah."

Seminggu kemudian, setelah membacakan cerita, ayahnya bertanya lagi: "Jenny, apakah kamu sayang ayah?" "Pasti, Yah. Ayah kan tahu aku sangat mencintaimu." "Kalau begitu, boleh ayah minta kalungmu?" "Ya, jangan kalungku, dong. Ayah ambil Ribbons, kuda-kudaanku. Ayah masih ingat, kan? Itu mainan favoritku. Rambutku panjang, lembut. Ayah bisa memainkan rambutnya, mengepangnya, dan sebagainya. Ambillah, Yah.Asal ayah jangan minta kalungku. Ya?" "Sudahlah, nak. Lupakanlah," kata sang ayah. Beberapa hari setelah itu, Jenny terus berpikir, kenapa ayahnya selalu meminta kalungnya, dan kenapa ayahnya selalu menanyai apakah ia sayang padanya atau tidak.

Beberapa hari kemudian, ketika ayah Jenny membacakan cerita, Jenny duduk dengan resah. Ketika ayahnya selesai membacakan cerita, dengan bibir bergetar ia mengulurkan tangannya yang mungil kepada ayahnya,sambil berkata: "Ayah, terimalah ini". Ia lepaskan kalung kesayangannya dari genggamannya, dan ia melihat dengan penuh kesedihan, kalung tersebut berpidah ke tangan sang ayah. Dengan satu tangan menggenggam kalung mutiara palsu kesayangan anaknya, tangan yang lainnya mengambil sebuah kotak beludru biru kecil dari kantong bajunya.

Di dalam kotak beludru itu terletak seuntai kalung mutiara yang asli, sangat indah, dan sangat mahal. Ia telah menyimpannya begitu lama, untuk anak yang dikasihinya. Ia menunggu dan menunggu agar anaknya mau melepaskan kalung mutiara plastiknya yang murah, sehingga ia dapat memberikan kepadanya kalung mutiara yang asli. Begitu pula dengan Bapa di Surga. Seringkali Ia menunggu lama sekali agar kita mau menyerahkan segala milik kita yang palsu dan menukarnya dengan sesuatu yang sangat berharga. Betapa baiknya Allah kita!

Pancake Buat Tuhan



Brandon bocah berumur 6 tahun. Suatu hari sabtu pagi, dimana biasanya orang tuanya tidak bekerja dan tidur sampai agak siang, Brandon menyiapkan sebuah kejutan. Ia berencana membuat pancake. Ia mengambil sebuah mangkuk besar, sendok, menggeser kursi ke pinggir meja, dan menarik sebuah tupperware berisi tepung yang berat, menumpahkan sebagian isinya ke lantai.

Lalu ia mengambil tepung itu dengan tangannya, sebagian berserakan di meja makan, lalu mengaduknya dengan susu dan gula sehingga bekas adonan berceceran di sekelilingnya. Ditambah lagi dengan beberapa telapak kaki kucingnya yang ingin tahu apa yang sedang terjadi. Brandon tampak tertutup dengan tepung dan kelihatan sangat frustasi. Yang dia inginkan hanya membuat sesuatu untuk menyenangkan mama dan papanya. Tapi kelihatannya yang terjadi malah sangat amat buruk. Dia sekarang tidak tahu harus berbuat apa, apakah memasukkan adonan ke dalam oven atau dibakar di perapian. Lagipula dia tidak tahu cara menyalakan api di kompor atau di oven. Tiba-tiba dia melihat kucingnya menjilati isi adonannya dan secara reflek mendorong si kucing agar tidak memakan adonan itu.

Si kucing terlempar, membawa serta beberapa butir telur mentah yang ada di meja. Dengan cemas ia berusaha membersihkan telur yang pecah itu, tetapi justru terpeleset karena licinnya lantai yang kini dipenuhi dengan tepung, membuat pakaian tidurnya putih dan lengket. Dan saat itu jugalah dia melihat papa berdiri di dekat pintu. Air mata akhirnya berjatuhan di pipi Brandon. Yang ingin dia lakukan adalah berbuat baik, tetapi justru kekacauan yang luar biasa yang ia buat. Kini ia hanya dapat pasrah menantikan omelan, jeweran atau mungkin malah pukulan. Tetapi papa hanya memandang dia. Lalu berjalan melewati semua kotoran yang ia buat, mengangkat dan menggendong anaknya yang kini sedang menangis sehingga baju tidur papa ikut menjadi kotor.

Papa memeluk dan mencium Brandon. Begitulah Tuhan berperkara dengan kita. Kita ingin berbuat sesuatu yang baik, tetapi malah kekacauan yang kita hasilkan. Pernikahan menjadi kacau, sahabat karib bertengkar, kita tidak tahan dengan keadaan di tempat kerja, kesehatan kita memburuk. Semua ini terjadi justru karena kita ingin berbuat yang baik. Kadang kala yang tersisa hanya tangisan karena tidak ada lagi yang dapat kita lakukan. Di situlah saatnya kita menerima kasih dan pelukan Tuhan.

Bila anda merasakan kasih Tuhan mengetuk di pintu hati anda hari ini, jangan menolakNya.
Terima kasih Bapa untuk hari ini, terima kasih untuk kasihMu. 

Hamba Setia


Hari itu, banyak orang yang mencari pekerjaan sebagai budak di tuan tanah yang kaya raya. Aku adalah gadis petani yang miskin. Aku sangat membutuhkan pekerjaan. Dan pada saat itu, sebuah berita tersebar di seluruh desa, bahwa ada seorang tuan tanah yg kaya raya yang terkenal tegas dan keras tetapi ia sangat adil dan bijaksana terhadap seluruh hambanya. Ia selalu memperlakukan semua hambanya dengan sangat baik dan tidak memperlakukannya semena-mena. Pekerjaan di tempatnya memang sangat keras, tetapi ia selalu memelihara hamba-hambanya selama mereka semua bekerja dengan giat. Mereka yang malas akan dikeluarkan tanpa uang pesangon.

Aku datang ke rumah kediaman tuan tanah itu. Rumahnya sangat menakjubkan dan belum pernah aku lihat sebelumnya. Sejauh mata memandang, di situ terhampar lahan yang luas, perkebunan anggur, dan peternakan. Aku sangat senang bercampur tegang ketika aku memasuki pekarangannya. Banyak yang bilang, kalau anak tuan tanah adalah seorang yang sangat tegas, pekerja keras tetapi baik hati, ramah dan pengertian. Ia minta jika ada orang yg ingin bekerja kepadanya, adalah total pengabdian selama 7 tahun. Setelah itu, akan dilepaskan dengan diberi imbalan sebuah kediaman indah di mana kamu bisa memeliharanya sendiri untuk selamanya.

Aku memasuki gerbang, gemetaran. Aku dibawa ke anak tuan tanah itu. Ia menjelaskan dengan sangat spesifik mengenai apa yang ia inginkan dariku, tetapi sebagai imbalannya, ia akan memperlakukanku dengan sangat baik dan membayarku sesuai dengan upah yang adil. Pekerjaanku mulai di lahan-lahannya. Kamu bisa bekerja sangat lama di lahannya, sepanjang hari penuh dengan perjuangan, tetapi setelah itu, ia akan memberikan makanan yang baik dan kediaman yang sangat nyaman dibandingkan dengan kediaman hamba tuan tanah yang lain. Sekali-sekali, anak tuan tanah itu berjalan-jalan mengelilingi lahannya untuk memeriksa kami. Yang rajin bekerja akan mendapatkan imbalan, sedangkan yang malas, diperingati bahkan dikeluarkan apabila mereka tidak berubah.

Setelah 7 tahun, setiap hamba diundang pesta seperti suatu upacara kelulusan, di mana anak tuan tanah tersebut akan mengucapkan selamat dan memberikan uang pesangon sebesar $15000 untuk setiap orang yang benar-benar bekerja dengan giat. Kemudian mereka dibebaskan. Tetapi ada juga yang diberi kesempatan untuk menjadi hamba seumur hidup, semacam dibeli oleh tuan tanah, tanpa pernah dibebaskan. Sebaliknya, tuan tanah akan memelihara mereka untuk seumur hidup. Hanya sedikit saja yang memikirkan pengabdian semacam ini.

Tujuh tahunku segera tiba, aku bertanya kepada hamba yang lain apakah mereka mempertimbangkan untuk menjadi hamba seumur hidup. Mereka tertawa dan berkata, "Tidak akan!!! Hanya orang gila yang akan mempertimbangkan hal semacam itu!" Pernah sekali-sekali aku melihat salah satu dari hamba seumur hidup tuan tanah itu datang. Mereka sangat berbeda. Mereka hanya muncul di lahan untuk membawa pesan dari tuan tanah, tetapi mereka tidak bergaul dengan kami. Setiap kali anak tuan tanah akan datang ke lahan, jantungku berdebar-debar gembira! Ia adalah orang yang sangat baik hari, lembur, ramah, kuat, dan tegas. Ia adalah orang yang sangat berkuasa, sama seperti ayahnya. Ketika aku melihatnya, jantungku seperti berhenti berdetak. Jantungku kemudian berdebar-debar dengan cepat dan cepat dan aku terpesona dengan setiap kata yang diucapkannya, meskipun ia jarang bicara langsung denganku. Sekali, ia berhenti dan bertanya namaku. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak memiliki nama. Ia hanya tersenyum mendengar jawabanku,

Dan inilah saatnya untuk "kelulusan". Aku dibebaskan pada malam itu. Anak tuan tanah itu memanggilku dan mengucapkan selamat kepadaku atas pekerjaanku. Ia akan memberikan kepadaku uang pesangon ketika aku berkata dengan suara pelan, "Aku tidak ingin pergi, aku ingin menjadi hamba seumur hidup, hamba setiamu." Kerumunan para hamba terkejut!!! Ia menenangkan mereka dan minta aku untuk mengulang perkataanku. Aku berkata, "Aku tidak ingin meninggalkanmu, tuan. Aku ingin tetap tinggal bersamamu untuk selamanya. Aku ingin menjadi hamba setiamu!" Ia bertanya apakah aku memiliki pertimbangan mengapa aku berani memutuskan hal itu. Aku katakan kepadanya bahwa aku punya alasan, tetapi ia memintaku untuk memikirkannya kembali malam itu dan memberitahukannya esok hari. Ketika pagi datang, ia mendekatiku lagi dan bertanya, "Apakah kau telah membuat keputusan?" Aku katakan, "Ya, tuanku. Aku ingin menjadi hamba setiamu." Ia tersenyum dan membawaku ke suatu tempat, kemudian ia memintaku untuk berbaring. Sebilah kayu diletakkan di belakang telinga kiriku. Kemudian salah satu dari hamba setianya mengambil paku dan memakunya ke daun telingaku untuk melubanginya. Ia memasangkan sebuah giwang emas di telinga kiriku. Ini adalah simbol dari perjanjian kami. Sakit di telingaku sangat hebat, tetapi kegembiraan di dalam hatiku jauh lebih hebat dari sakitku itu. Ketika aku mulai untuk pergi, anak tuan tanah memanggilku untuk mendekat kepadanya. Ia membuatku lega dan memintaku untuk mengemas barangku. Kataku kepadanya, "Tetapi tuan, kemana aku akan pergi?" Ia katakan kepadaku bahwa aku tidak akan tinggal di perkampungan hamba lagi, tetapi aku akan tinggal di rumahnya. Aku adalah miliknya sekarang dan ia akan selalu memperhatikan aku, tidak peduli apa yang terjadi! Bahkan ia memberikan aku nama!

Kediamannya lebih menakjubkan dari yang kubayangkan. Aku bahkan memiliki kamarku sendiri! Aku memang masih bekerja keras untuk tuan tanah dan anaknya, tetapi keadaan di sana sangat berbeda. Aku tinggal di rumahnya. Aku mulai mengetahui kehidupannya. Aku melihat bagaimana ia hidup. Sekali-sekali ia datang ke kamarku hanya untuk berbincang denganku. Aku memelihara semua keperluannya. Aku mulai mengetahui apa yang ia suka dan tidak suka.

Beberapa tahun berlalu, aku menjadi tua dan rapuh. Suatu hari, ketika aku sedang membawa pesan untuknya di lahan, aku berasa lemah. Aku harus duduk sebentar. Tetapi, anak tuan tanah itu segera berlari memeriksa keadaanku. Ia melihatku dan menggendongku di punggungnya, membawaku ke kediaman ayahnya. Ia membaringkan aku di ranjangku dan menungguiku. Ia tidak meninggalkanku sejengkal pun. Aku bertanya kepadanya mengapa ia melakukan hal ini dan ia menjawab, "Aku telah berjanji kepadamu beberapa tahun yang lalu bahwa jika kau menjadi hamba setiaku, aku akan memeliharamu seumur hidupmu, bahkan ketika kau sudah tua dan rapuh. Inilah giliranku untuk menunggumu!"

Aku tidak pernah menyesal hari itu ketika aku membuat keputusan untuk menjadi hamba setianya, Aku tahu bahwa apapun yang terjadi, ia akan selalu hadir untukku. Dan giwang emas ini selalu mengingatkanku akan hubungan kami. Aku selalu terbayang-bayang apa yang terjadi dengan hamba yang lain, berapa lamakah mereka bisa bertahan dengan uang pesangon itu? Dan apa yang terjadi jika mereka tua? Siapa yang akan memelihara mereka ketika mereka tidak lagi mampu untuk menjaga diri mereka sendiri?

"Henceforth I call you not servants; for the servant knowth not what his lord doeth: but I have called you friends; for all things that I have heard of my Father, I have made known unto you." (John 15:15)

DUA KOTAK


Ada di tanganku dua buah kotak yang telah Tuhan berikan padaku untuk dijaga. Kata-Nya, "Masukkan semua penderitaanmu ke dalam kotak yang berwarna hitam.
Dan masukkan semua kebahagiaanmu ke dalam kotak yang berwarna emas."

Aku melakukan apa yang Tuhan katakan.
Setiap kali mengalami kesedihan maka aku letakkan ia ke dalam kotak hitam. Sebaliknya ketika bergembira maka aku letakkan kegembiraanku dalam kotak berwarna emas.

Tapi anehnya, semakin hari kotak berwarna emas semakin bertambah berat. Sedangkan kotak berwarna hitam tetap saja ringan seperti semula.
Dengan penuh rasa penasaran, aku membuka kotak berwarna hitam. Kini aku tahu jawabannya. Aku melihat ada lubang besar di dasar kotak berwarna hitam itu, sehingga semua penderitaan yang aku masukkan ke sana selalu jatuh keluar.

Aku tunjukkan lubang itu pada Tuhan dan bertanya, "Kemanakah perginya semua penderitaanku?" Tuhan tersenyum hangat padaku. "AnakKu, semua penderitaanmu berada padaKu." Aku bertanya kembali, "Tuhan, mengapa Engkau memberikan dua buah kotak, kotak emas dan kotak hitam yang berlubang?"

"AnakKu, kotak emas Kuberikan agar kau senantiasa menghitung rahmat yang Aku berikan padamu, sedangkan kotak hitam Kuberikan agar kau melupakan penderitaanmu." Ingat-ingatlah semua kebahagiaanmu agar kau senantiasa merasakan kebahagiaan. Campakkan penderitaanmu agar kau melupakannya 

Friday, November 23, 2012

Ibu, Malaikatku

Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya 
kepada Tuhan : "Para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah"?

Dan Tuhan menjawab, "Saya telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan
menjaga dan mengasihimu."

"Tapi disini, di dalam surga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia."

"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu
akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."

"Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika
saya tidak mengerti bahasa mereka ?"

"Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang
pernah kamu dengar; dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan
mengajarkan bagaimana cara kamu berbicara."

"Dan apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu ?"

"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."

"Saya mendengar bahwa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya ?"

"Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal tersebut mungkin dapat
mengancam jiwanya."

"Tapi, saya pasti akan merasa sedih karena tidak melihatMu lagi."

"Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang Saya, dan akan
mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."

Saat itu Surga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar,
dan sang anak bertanya perlahan, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Kamu memberitahuku nama malaikat tersebut ?

"Kamu akan memanggil malaikatmu, Ibu."

Hadiah yang Lebih Berharga

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. Kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya. 

Setahun sudah lewat sejak Susan (34), menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustasi, dan rasa kasihan pada diri sendiri.
Sebagai wanita yang sangat independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya, dan menjadi beban bagi semua orang di sekelilingnya.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku ?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu -- penglihatannya takkan pernah pulih lagi.

Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustasi. Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus.
Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputus asaan. Mark bertekat untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi.

Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.
Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggir kota yang berseberangan.

Mula-mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun.
Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru -- membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah.

Bagaimana reaksinya nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. "Aku buta !" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku" Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan,sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.

Dan itulah yang terjadi. Selama dua minggu penuh Mark, menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagaimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan satu kursi kosong untuknya.

Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya.
Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama,Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah.
Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri.

Tibalah hari Senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke arah yang berlawanan.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis...Setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jum'at pagi,seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata : "Wah,aku iri padamu". Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup?

Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?" Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu"
Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya, "Apa maksudmu ?" Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung",kata sopir itu.

Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk menyakinkan diri -- hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan.